Course Content
Topik 1: Metode Wawancara
0/1
Topik 3: Wawancara Online
0/1
Aktivitas
0/1
Asesmen Modul 2
0/1
Modul 2: Metode Sejarah Lisan

Wawancara Formal dan Informal

Pada Modul1.3, kita telah membahas perbedaan berbagai jenis wawancara , termasuk tentang kisah hidup (life stories) dan kisah hidup yang terbatas (limited life stories). Namun, bagi sejarawan lisan (oral historian), masih ada lebih banyak bentuk wawancara yang dapat digunakan, yang masing-masing memiliki ciri khas dan fungsi yang berbeda. Berikut ini kita akan membahas dua di antaranya, yaitu mengobrol santai dan Diskusi Kelompok Terpumpun/Seminar Saksi Mata.

Mengobrol Santai

Mari kita mulai dengan cara wawancara yang paling mudah dilakukan: ngobrol santai. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa ini bukan bentuk wawancara “serius” atau yang sesungguhnya. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, karena ngobrol santai sering kali hanya berupa percakapan ringan dengan seseorang tanpa struktur yang jelas. Namun demikian, metode ini tetap dapat digunakan untuk menghasilkan sumber sejarah lisan.

Ngobrol santai memiliki beberapa fungsi penting. Pertama, ia bisa menjadi pengantar atau langkah awal menuju wawancara yang lebih mendalam. Hal ini biasanya dilakukan saat kita baru pertama kali bertemu narasumber atau orang yang ingin kita wawancarai, atau sedang mempertimbangkan apakah seseorang layak untuk diwawancarai lebih lanjut. Dalam situasi seperti ini, kita dapat duduk dan melakukan obrolan ringan untuk menjajaki kemungkinan topik wawancara yang lebih terstuktur, yaitu tema apa saja yang bisa diceritakan oleh orang tersebut. Sangat penting untuk segera mencatat informasi yang muncul dalam obrolan ini, karena data awal inilah yang pertama kali kita kumpulkan.

Kedua, ngobrol santai juga dapat digunakan untuk menjelajahi suatu lokasi atau peristiwa. Misalnya, jika Anda sedang meneliti sebuah peristiwa bersejarah dan ada situs atau lieux de mémoire yang terkait dengannya, mengobrol ringan dengan orang-orang di sekitar situs atau monumen tersebut bisa sangat bermanfaat. Anda dapat menanyakan makna situs atau monumen itu bagi mereka, atau apa yang mereka ketahui tentangnya. Keterangan yang dikumpulkan melalui cara ini sangat penting karena dapat memberikan informasi tentang makna sebuah monumen, atau bahkan tentang memori kolektif di lokasi tersebut.

Diskusi Kelompok Terpumpun/Seminar Saksi Mata

Sebagian besar wawancara sejarah lisan memang dilakukan secara individual, antara satu pewawancara dengan yang diwawancarai. Namun, ada baiknya mempertimbangkan juga  penggunaan wawancara kelompok. Banyak desain penelitian sudah mengenal Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT), yaitu wawancara kelompok yang yang meminta sekelompok orang untuk mendiskusikan tema tertentu. Para peserta DKT dapat berasal dari kalangan ahli hingga saksi mata. 

Dalam Sejarah Lisan, kita mengenal varian khusus dari DKT, yaitu Eye Witness Seminar (EWS) atau Seminar Saksi Mata (SSM). Dalam SSM, kita mempertemukan orang-orang yang pernah mengalami atau menyaksikan langsung peristiwa sejarah yang sama. Setidaknya ada dua cara untuk memilih siapa yang akan diundang untuk berpartisipasi. 

Cara pertama adalah mengundang orang-orang yang memiliki pengalaman serupa atau berada dalam situasi yang relatif sama. Salah satu dampak dari proses berbagi cerita secara kolektif dalam SSM adalah dapat membantu membangkitkan kembali ingatan para peserta, dan setiap orang mungkin mengingat detail yang berbeda-beda. Cara kedua untuk memilih kelompok peserta adalah dengan mempertemukan orang-orang yang memiliki posisi atau peran berbeda dalam jalannya peristiwa sejarah. Dengan mempertemukan mereka dalam satu forum, kita mungkin mendapatkan wawasan yang lebih rinci terkait proses atau jalannya peristiwa sejarah.

Perlu diingat, sebagaimana dalam wawancara satu lawan satu, pewawancara tetap harus menyiapkan daftar topik untuk membantu mengarahkan diskusi dalam SSM (lihat juga Modul 3.4).