Peralatan Rekaman
Sejarah lisan sebenarnya merupakan metode yang sudah lama dikenal, karena banyak pengetahuan sejarah kita berasal dari cerita-cerita yang diwariskan oleh generasi yang lebih tua. Namun, sejarah lisan modern sangat bergantung pada peralatan perekam untuk merekam cerita para saksi sejarah secara lebih akurat. Dengan kata lain, perkembangan sejarah lisan modern juga mengikuti perkembangan teknologi.
Pada masa awal sejarah lisan modern, peralatan perekam yang digunakan adalah alat perekam berukuran besar dengan pita gulung (reel tape). Setelah itu, muncul kaset pita yang membuat peralatan perekam menjadi lebih portabel dan praktis dibawa ke lapangan. Masa ini dikenal sebagai era analog.
Salah satu tantangan di era tersebut adalah bagaimana cara mengakses hasil rekaman. Peneliti harus memutar maju atau mundur pita kaset atau reel tape secara manual untuk menemukan bagian tertentu dari wawancara. Masalah lain yang muncul adalah bagaimana menemukan kutipan atau informasi penting di antara rekaman yang panjang. Hal ini akan kita bahas lebih lanjut pada Modul 5.3.
Saat ini, kita memiliki banyak peralatan perekam modern yang dapat digunakan untuk mendukung wawancara. Namun, sebelum memulai wawancara, penting untuk mempertimbangkan mengapa kita merekam, untuk tujuan apa rekaman tersebut dibuat, dan bagaimana hasil rekaman tersebut akan digunakan.
Kualitas: Audio dan/atau Video
Pertanyaan utama yang perlu kita ajukan adalah untuk apa rekaman akan digunakan. Apakah rekaman hanya diperlukan sebagai pengingat apa yang sudah disampaikan? Ataukah rekaman tersebut akan digunakan untuk keperluan publikasi, seperti podcast, siaran radio, atau publikasi digital yang dilengkapi audio?
Pertanyaan ini penting karena akan menentukan format rekaman yang sebaiknya dipilih. Jika Anda memerlukan hasil rekaman dengan kualitas terbaik, sebaiknya gunakan format ‘wav’. Format ini dikenal memiliki resolusi tinggi dengan detail suara yang lebih jernih. Sebaliknya, jika rekaman hanya untuk keperluan pribadi atau sekadar referensi untuk mengecek ulang isi wawancara, format MP3 atau format dengan resolusi lebih rendah sudah cukup memadai.
Selain itu, sebelum merencanakan wawancara, Anda juga perlu mempertimbangkan apakah hanya ingin merekam audio saja atau juga akan merekam video. Jika Anda berencana membuat klip wawancara atau publikasi digital interaktif, rekaman video bisa menjadi pilihan yang mendukung. Sekali lagi, Anda harus menentukan kualitas dan resolusi rekaman yang dibutuhkan. Apakah merekam dengan telepon genggam sudah cukup, atau perlu menggunakan kamera khusus?
Menguasai Peralatan Perekam
Ketika menggunakan peralatan perekam, sangat penting bagi kita untuk menguasai cara mengoperasikannya dengan baik. Sebagai peneliti, kita bertanggung jawab untuk menghasilkan rekaman yang berkualitas. Oleh karena itu, kita harus benar-benar memahami cara menggunakan alat perekam yang akan dipakai. Sebaiknya, sebelum mulai mewawancarai narasumber, luangkan waktu untuk melakukan tes peralatan dan latihan dengan teman.
Selain itu, ada alasan lain mengapa kita perlu menguasai peralatan perekam dengan baik. Jika pewawancara terlihat kesulitan mengoperasikan alat rekam, hal ini bisa membuat narasumber merasa canggung atau tidak nyaman. Pada masa awal perkembangan sejarah lisan, banyak panduan wawancara yang menekankan agar pewawancara berhati-hati saat menunjukkan alat rekam kepada narasumber, karena beberapa orang mungkin merasa takut atau enggan. Saat ini, situasinya memang berbeda. Orang sudah terbiasa melihat alat perekam. NAMUN, tetap penting bagi narasumber untuk melihat bahwa peralatan perekam adalah bagian wajar dari kerja pewawancara, sama seperti kamera bagi seorang fotografer. Semua ini sangat bergantung pada cara pewawancara memperlakukan dan menggunakan peralatan tersebut.
Meskipun begitu, perlu diingat bahwa penggunaan alat rekam tetap bisa mempengaruhi suasana wawancara. Sebagai contoh, kamera sering membuat narasumber merasa gugup atau tertekan, karena mereka selalu sadar bahwa semua yang diucapkan akan direkam dan disimpan.
Dimensi Tambahan dari Rekaman
Merekam wawancara memberikan informasi tambahan dari kisah yang telah diceritakan. Lewat rekaman audio, kita masih bisa mendengar irama suara, jeda hening, nada emosional, dan berbagai nuansa lain yang memperkaya makna cerita. Jika wawancara direkam dalam bentuk video, kita juga dapat melihat bahasa tubuh dan ekspresi wajah narasumber, yang membantu kita memahami cerita dengan lebih mendalam.
Perlu diingat bahwa wawancara adalah proses interaktif di mana pertanyaan dan jawaban bersama-sama membentuk sumber sejarah lisan. Oleh karena itu, dalam rekaman, bukan hanya suara narasumber yang penting, tetapi juga suara pewawancara: pertanyaan apa yang diajukan? Bagaimana cara pertanyaan disampaikan? Bagi peneliti, dinamika antara pewawancara dan narasumber yang terekam ini menjadi dimensi tambahan yang sangat berguna dalam menganalisis hasil wawancara secara lebih utuh.