Course Content
Topik 1: Tentang Profil dan Jumlah Narasumber
0/2
Topik 2: Bagaimana Menemukan Narasumber dalam Sejarah Lisan?
0/1
Topik 3: Jenis Narasumber
0/1
Topik 4: Menyusun struktur wawancara
0/1
topik 5: Lokasi Interview
0/1
Topik 6: Peralatan Rekaman
0/1
Topik 7: Menggunakan Benda dan Aktivitas dalam Wawancara Sejarah Lisan
0/2
Topik 8: Privasi
0/1
Modul 3: Narasumber

Pada modul sebelumnya kita telah belajar mengenai bagaimana caranya mendapatkan narasumber dan juga menyusun struktur wawancara. Dalam modul ini, kita akan belajar lebih lajut tentang lokasi wawancara.

Meskipun nampaknya kurang penting, tapi kita perlu memikirkan tempat yang terbaik untuk melakukan wawancara. Tentu saja tidak mungkin bagi kita untuk selalu dapat mengontrol hal ini, karena situasi seringkali tidak mendukung, tapi penting bagi kita untuk memikirkannya.

Pada Modul 3.7. kita akan belajar tentang penggunaan aktivitas atau obyek tertentu sebagai alat dalam wawancara. Hal ini berarti kadang kita harus pergi ke monumen atau tempat di mana kita bisa melakukan aktivitas tertentu yang mendukung wawancara. Kita tidak dapat mengontrol lingkungan, misalnya suara yang bising di sekitar lokasi, atau mengenai adanya kemungkinan orang-orang yang tiba-tiba muncul dan mengintervensi atau mengganggu wawancara. Dalam kasus semacam itu, penting bagi kita untuk bertanggung jawab sebagai pewawancara dan mencoba untuk membuat narasumber senyaman mungkin agar ia dapat menceritakan kisahnya.

Jika kita, sebagai pewawancara, merasa bahwa situasi yang ada justru menghambat narasumber untuk bercerita dengan leluasa, maka kita perlu mencari cara untuk memperbaiki keadaan tersebut. Jika kita merasa cerita belum sepenuhnya tersampaikan saat melakukan aktivitas tertentu atau saat melihat suatu objek, dan hal ini memang sering terjadi, maka penting untuk membuat janji lanjutan agar dapat duduk bersama dan melakukan wawancara tambahan.

Dalam banyak kasus, wawancara akan dilakukan bukan di luar ruangan atau sambil melakukan aktivitas tertentu, tetapi di situasi wawancara biasa. Karena itu, penting untuk mendiskusikan terlebih dahulu di mana narasumber merasa paling nyaman untuk bercerita. Umumnya, orang merasa paling tenang dan percaya diri ketika bercerita di rumah sendiri atau di tempat yang sudah familiar bagi mereka. Sebagai pewawancara, kita perlu menyetujui hal ini demi kenyamanan narasumber.

NAMUN, sebagai pewawancara kita juga bertanggung jawab untuk memastikan bahwa hasil wawancara dapat digunakan dengan baik. Oleh karena itu, kita juga perlu mendiskusikan siapa saja yang akan hadir saat wawancara berlangsung. Situasi yang paling ideal adalah wawancara dilakukan secara tatap muka satu lawan satu, atau dengan jumlah orang lain di sekitar yang seminimal mungkin. Dalam praktiknya, anggota keluarga narasumber mungkin tetap berada di rumah dan dekat dengan lokasi wawancara. Dalam kondisi seperti ini, ada baiknya kita mencari cara agar anggota keluarga tidak terlalu sering ikut campur atau, jika memungkinkan, meninggalkan ruangan selama wawancara. Kehadiran orang lain bisa membuat narasumber merasa sungkan atau tidak leluasa untuk membicarakan hal-hal yang bersifat sensitif.

Tentu saja, hal ini tidak selalu mudah dilakukan, karena pewawancara adalah tamu di rumah narasumber. Upaya untuk meminta anggota keluarga menyingkir hanya dapat dilakukan jika mereka merasa nyaman dengan hal tersebut, dan pewawancara mampu menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah agar narasumber dapat fokus dan bebas bercerita. Di sisi lain, dalam beberapa situasi, kehadiran anggota keluarga atau teman justru dibutuhkan untuk mendukung rasa percaya diri narasumber.

Yang perlu diingat, pewawancara tidak selalu (mungkin di kebanyakan kasuss) mampu mengendalikan sepenuhnya lokasi wawancara. Dalam situasi seperti ini, pewawancara harus siap menerima keadaan, beradaptasi, dan berusaha semaksimal mungkin agar narasumber tetap merasa nyaman bercerita.