Course Content
Topik 1: Tentang Profil dan Jumlah Narasumber
0/2
Topik 2: Bagaimana Menemukan Narasumber dalam Sejarah Lisan?
0/1
Topik 3: Jenis Narasumber
0/1
Topik 4: Menyusun struktur wawancara
0/1
topik 5: Lokasi Interview
0/1
Topik 6: Peralatan Rekaman
0/1
Topik 7: Menggunakan Benda dan Aktivitas dalam Wawancara Sejarah Lisan
0/2
Topik 8: Privasi
0/1
Modul 3: Narasumber

Topik penting yang harus kita pikirkan sebelum memulai wawancara adalah siapa yang ingin kita wawancarai. Tentu saja, ini tergantung pada pertanyaan penelitian dan topik penelitian. Namun, ada beberapa aspek yang harus dipikirkan sebelum mulai mengidentifikasi orang yang ingin diwawancarai. Kita harus memikirkan dua aspek: 1) profil narasumber dan 2) berapa banyak narasumber yang kita butuhkan, bagaimana kita mencapai representasi (jika diperlukan).

Mari kita mulai dengan profil narasumber. Ketika kita berbicara tentang profil, pada kenyataannya, kita berpikir tentang pengetahuan dan posisi narasumer apa yang kita inginkan. Jika kita mengambil sebuah peristiwa sejarah, apakah kita membutuhkan seseorang yang menjadi saksi mata, atau seseorang yang mempelajari peristiwa tersebut atau dengan cara lain terhubung dengan peristiwa tersebut? Penting untuk berpikir tentang apakah kita mewawancarai orang-orang yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, atau orang-orang yang terkena dampak suatu peristiwa, atau keduanya. Berpikir tentang profil, kita juga harus memutuskan apakah kita membutuhkan narasumber yang mewakili organisasi (misalnya pemerintah [nasional, regional, lokal], lembaga masyarakat atau agama, LSM), dan apakah kita perlu mewawancarai orang-orang yang juga dapat dianggap sebagai pengamat masyarakat, seperti jurnalis, imam, pendeta, guru, dll. Penting untuk dicatat adalah bahwa kita harus berpikir tentang apakah kita harus memasukkan perspektif yang berbeda yang disajikan oleh narasumber yang berbeda. Dan kita mesti sadar, bahwa tidak selamanya para pemimpin atau orang terdepanlah yang paling tahu. Untuk sejarah lisan, penting untuk terbuka terhadap kisah-kisah dari orang-orang yang disebut biasa, orang awam, pengikut suatu gerakan, dan pengamat, singkatnya juga bagi orang-orang yang tidak punya kekuasaan.