Course Content
Topik 1: Interaksi/Komunikasi Nonverbal
0/1
Topik 2: Interaksi Verbal
0/1
Topik 3: Keheningan dan Emosi
0/1
Topik 4: Seni Mendengarkan
0/1
Modul 4: Metode Pelaksanaan Wawancara

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana seseorang berbicara tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui gerakan tangan, tatapan mata, ekspresi wajah, atau nada suara? Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita bisa memahami maksud orang lain meskipun mereka hanya mengangguk, tersenyum, atau diam sejenak.

Lalu, bagaimana dengan wawancara sejarah lisan? Seberapa pentingkah memahami bahasa tubuh narasumber? Bagaimana komunikasi nonverbal dapat memengaruhi kualitas cerita yang kita dapatkan?

Wawancara pada dasarnya adalah proses interaksi dua arah. Pewawancara dan narasumber berinteraksi dan bersama-sama membangun sebuah sumber sejarah lisan. Penting untuk diingat bahwa komunikasi tidak hanya bergantung pada kata-kata yang diucapkan, tetapi juga pada isyarat nonverbal yang sering kali menyampaikan pesan tersembunyi.

Komunikasi nonverbal sama pentingnya dengan komunikasi verbal. Di Topik 2 pada modul ini, kita akan membahas lebih detail tentang komunikasi verbal. Namun pada topik kali ini, kita akan fokus belajar mengenali dan memahami komunikasi nonverbal, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi jalannya wawancara sejarah lisan.

 

Bahasa Tubuh

Mari kita mulai dengan membahas bahasa tubuh. Untuk mendorong narasumber agar bercerita lebih lancar, pewawancara dapat memberikan dukungan melalui komentar singkat seperti “luar biasa” atau melalui suara penegas seperti “oh ya”, “hmm”. Namun, yang lebih berpengaruh adalah bagaimana pewawancara memberi sinyal lewat bahasa tubuhnya.

Sebagai contoh, jika pewawancara duduk dengan posisi malas di kursi, narasumber bisa menangkap sinyal bahwa pewawancara tidak benar-benar tertarik. Akibatnya, narasumber pun merasa tidak perlu melanjutkan cerita. Hal serupa terjadi jika pewawancara terlalu sering menunduk hanya untuk melihat daftar topik atau sibuk mencatat; ini membuat suasana wawancara menjadi kaku dan membuat narasumber enggan bercerita. Sebaliknya, jika pewawancara duduk tegak di ujung kursi dengan sikap tubuh yang menunjukkan minat dan perhatian penuh, hal ini akan mendorong narasumber merasa dihargai dan lebih semangat berbagi cerita.

Sebagai pewawancara, kita perlu memikirkan sinyal-sinyal tubuh seperti ini. Contoh di atas hanya membahas cara duduk, tetapi ekspresi wajah juga penting. Ketika kita benar-benar ingin mendengar cerita seseorang, ekspresi wajah kita akan terbuka dan menunjukkan rasa ingin tahu. Namun, jika kita merasa bosan atau meragukan kebenaran cerita narasumber, perasaan ini tanpa sadar juga tercermin pada wajah kita. Seorang pewawancara sejarah lisan yang baik akan menyadari bahasa tubuh dan ekspresinya sendiri, lalu menggunakannya untuk mendukung jalannya wawancara, bukan justru menghalangi narasumber.

Pakaian Pewawancara

Bahasa tubuh juga berkaitan dengan cara pewawancara berpakaian. Pepatah Jawa mengatakan, “ajining raga saka busana” yang artinya pakaian mencerminkan diri seseorang. Dalam wawancara, hal ini patut dipertimbangkan dengan bijak. Tidak ada satu aturan baku. Tentu saja pewawancara harus berpakaian rapi dan pantas. Namun, terlalu formal pun kadang menjadi penghalang. Misalnya, mengenakan jas resmi saat mewawancarai seorang petani di ladang bisa membuat narasumber merasa kaku atau sungkan.

Pakaian juga bisa memunculkan jarak sosial yang tidak perlu. Namun, jangan sampai pewawancara berpakaian terlalu santai atau dengan gaya yang justru membuat dirinya sendiri merasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman ini akan terbaca oleh narasumber dan bisa memengaruhi kelancaran wawancara.

Perbedaan Usia, Gender, Etnis, dan Agama

Hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam wawancara sejarah lisan adalah perbedaan usia, jenis kelamin, etnis, agama, dan latar belakang sosial lainnya antara pewawancara dan narasumber.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa seseorang dengan latar belakang gender atau etnis tertentu sebaiknya tidak mewawancarai orang dari gender atau etnis yang berbeda. Namun, pandangan ini sebenarnya tidak selalu mutlak. Memang benar, ada beberapa topik yang bisa menjadi lebih sensitif jika dibicarakan dengan pewawancara yang berbeda latar belakangnya.

Di sisi lain, memiliki latar belakang yang sama pun bukan berarti tidak ada tantangan. Misalnya, pewawancara bisa merasa terlalu yakin bahwa ia sudah memahami konteks cerita sehingga enggan menggali lebih dalam. Sebaliknya, narasumber bisa merasa tidak nyaman atau memilih menahan informasi karena pewawancara dianggap bagian dari kelompok sosial tertentu.

Yang paling penting dalam interaksi saat berkaitan dengan perbedaan gender, etnis, usia, dan agamaini adalah bagaimana pewawancara dan narasumber saling memandang dan mendefinisikan satu sama lain. Apakah keduanya memiliki keinginan untuk menjembatani perbedaan, dan apakah suasana wawancara terasa cukup aman untuk melakukannya? Jika ya, maka tantangan berikutnya adalah apakah pewawancara mampu merumuskan pertanyaan yang tepat untuk menggali informasi lintas perbedaan tersebut, dan apakah narasumber merasa cukup nyaman menjawab dengan cara yang dapat dipahami oleh pewawancara.