Pernahkah Anda merasa sudah mendengarkan, tetapi ternyata melewatkan hal-hal penting dalam cerita orang lain? Bagaimana caranya benar-benar mendengarkan narasumber saat wawancara, bukan hanya mendengar suaranya?
Di Topik 4 ini, kita akan membahas bagian paling rumit dalam sejarah lisan: mendengarkan. Banyak orang mengira hal tersulit dalam wawancara adalah merancang pertanyaan. Padahal, inti wawancara sejarah lisan adalah bagaimana kita menangkap cerita narasumber—dan itu hanya mungkin dilakukan jika kita benar-benar mendengar dan memahami apa yang mereka sampaikan.
Mendengar di sini bukan sekadar mendengar suara, tetapi menangkap makna, memproses informasi, dan menggunakan jawaban untuk melanjutkan percakapan. Wawancara yang baik adalah rangkaian pertanyaan yang mengalir dari jawaban sebelumnya, bukan sekadar daftar pertanyaan yang berdiri sendiri.
Mendengarkan Bukan Hal yang Sederhana
Sayangnya, tidak ada cara instan untuk bisa mendengarkan dengan baik. Cara terbaik adalah selalu merefleksikan cara kita mendengarkan. Mari kita lihat dua contoh kebiasaan mendengarkan yang sering menjadi kendala.
Pertama, ada orang yang merasa sudah tahu arah jawaban begitu narasumber baru bicara beberapa kalimat. Cara mendengarkan seperti ini menutup kemungkinan munculnya arah cerita baru atau kata-kata penting yang justru muncul di tengah atau akhir jawaban. Hasilnya, pewawancara membangun versi jawaban di pikirannya sendiri, bukan mendengar versi narasumber.
Kedua, ada pewawancara yang terlalu sibuk memikirkan pertanyaan selanjutnya, sehingga hanya menangkap separuh jawaban. Masalah ini sering terjadi pada pewawancara yang terlalu terpaku pada urutan topik di daftar pertanyaan. Akibatnya, mereka melewatkan peluang bertanya lebih dalam pada hal-hal menarik yang muncul spontan. Wawancara pun terasa terputus-putus, tidak mengalir.
Mendengar Lapisan Makna
Mendengarkan dengan sungguh-sungguh juga berarti menangkap lapisan-lapisan dalam jawaban. Kadang, narasumber menceritakan kisah sampingan yang tampaknya tidak relevan. Sebagai pewawancara, kita perlu bertanya pada diri sendiri: Mengapa cerita sampingan ini muncul? Bisa jadi di baliknya ada makna khusus atau kisah emosional yang hanya bisa diceritakan secara tidak langsung.
Mendengarkan dengan baik juga berarti peka terhadap keheningan, batuk kecil, perubahan ritme bicara, naik-turun volume dan nada suara. Semua ini adalah isyarat yang bisa membantu kita memahami suasana hati narasumber dan menggali cerita lebih dalam.
Mendengarkan adalah Seni
Singkatnya, seni mendengarkan hanya bisa dipelajari melalui latihan berulang, disertai kebiasaan untuk selalu mengkritisi cara kita mendengar. Semakin kita sadar bagaimana cara kita mendengar, semakin baik pula kualitas wawancara sejarah lisan yang bisa kita hasilkan.