Pernahkah Anda merasa suasana wawancara menjadi kaku hanya karena pertanyaan yang diajukan terdengar terlalu “menginterogasi”? Atau sebaliknya, pernahkah Anda mendengar wawancara yang mengalir begitu santai sehingga narasumber bercerita panjang lebar tanpa merasa tertekan?
Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa cara kita berinteraksi secara verbal sangat menentukan kualitas wawancara sejarah lisan. Setelah pada Topik 1 kita membahas pentingnya komunikasi nonverbal, kini saatnya fokus pada bagaimana membangun percakapan melalui kata-kata.
Dalam wawancara, komunikasi verbal bukan hanya sekadar mengajukan pertanyaan, tetapi juga tentang bagaimana menyusun pertanyaan yang tepat, menanggapi jawaban, dan menciptakan suasana saling percaya. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, mulai dari cara memilih kata, intonasi suara, hingga kapan harus diam mendengarkan.
Pada topik ini, kita akan membahas beberapa prinsip dasar tentang interaksi verbal dalam wawancara sejarah lisan. Pembahasan lebih detail tentang cara merumuskan pertanyaan dan hal-hal yang perlu dihindari akan dijelaskan pada bagian-bagian modul selanjutnya.
Pertanyaan Terbuka dan Tidak Mengarahkan
Pertama-tama, mari kita bahas perbedaan antara pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Dalam sejarah lisan, tujuan wawancara adalah mendorong narasumber bercerita seluas-luasnya tentang kehidupan dan pengalaman mereka. Karena itu, pewawancara harus menyusun pertanyaan dengan cara yang tidak membatasi cerita, tetapi justru membuka ruang agar narasumber dapat mengembangkan jawabannya.
Inilah mengapa penting untuk menggunakan pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan “ya” atau “tidak”, melainkan mendorong narasumber untuk menjelaskan lebih detail dengan kata-kata mereka sendiri.
Selain itu, hindari pertanyaan yang bersifat sugestif. Pertanyaan sugestif adalah pertanyaan yang secara tidak langsung sudah memberi petunjuk atau arah jawaban. Misalnya, saat bertanya tentang perasaan narasumber, sebaiknya jangan langsung menawarkan pilihan seperti “Apakah Anda marah atau kecewa?”. Sebaliknya, biarkan narasumber sendiri yang menggambarkan perasaannya dengan kata-kata mereka.
Merangkum Jawaban Narasumber?
Setelah wawancara berjalan dan pewawancara ingin berpindah ke pertanyaan berikutnya, terkadang ada kebiasaan untuk merangkum jawaban narasumber terlebih dahulu. Tujuannya biasanya untuk menjembatani ke pertanyaan baru atau untuk menutup topik yang sedang dibahas.
Namun, perlu hati-hati: merangkum jawaban bisa menimbulkan risiko. Jika rangkuman yang disampaikan pewawancara kurang tepat, narasumber mungkin akan mengoreksi atau merasa bahwa jawabannya disalahartikan. Jika rangkuman tadi bertujuan untuk menutup topik, koreksi dari narasumber bisa menimbulkan kesan bahwa pewawancara tidak benar-benar mendengarkan. Hal ini tentu berdampak negatif pada suasana wawancara. Jika pewawancara ingin memastikan bahwa ia memahami jawaban dengan benar, lebih baik mengajukan pertanyaan klarifikasi daripada membuat rangkuman sendiri.
Selain itu, jika rangkuman digunakan sebagai jembatan ke pertanyaan baru, sering kali justru memperlambat alur wawancara. Narasumber akan terdistraksi, karena harus memikirkan kembali rangkuman pewawancara sebelum menjawab pertanyaan baru. Banyak pewawancara merasa perlu membuat rangkuman sebagai cara untuk menjelaskan alasan munculnya pertanyaan berikutnya, padahal pada kenyataannya narasumber tidak membutuhkan penjelasan tersebut. Akan lebih baik jika pewawancara langsung mengajukan pertanyaan baru secara jelas, tanpa perlu didahului rangkuman yang panjang.
Berdebat dengan Narasumber?
Dalam proses wawancara, ada kalanya pewawancara merasa bahwa jawaban narasumber tidak sepenuhnya benar, ada bagian yang terkesan kurang lengkap, atau bahkan pewawancara sama sekali tidak setuju dengan pandangan narasumber. Dalam situasi seperti ini, pewawancara sering terdorong untuk memulai perdebatan atau diskusi untuk membantah jawaban tersebut.
Namun, pendekatan ini tidak produktif dan sebaiknya dihindari. Wawancara sejarah lisan bertujuan untuk merekam cerita dari sudut pandang narasumber, terlepas dari apakah pewawancara setuju atau tidak dengan isinya.
Jika pewawancara merasa jawaban narasumber tidak benar atau keliru, ada baiknya ia merenung sejenak: mungkinkah justru pewawancara yang salah memahami konteksnya? Bisa saja jawaban narasumber benar menurut perspektif atau pengalaman pribadinya.
Dalam kasus seperti ini, langkah yang lebih baik adalah mengajukan pertanyaan lanjutan untuk menggali lebih dalam. Tanyakan mengapa narasumber memberikan jawaban tersebut, dan cobalah pahami latar belakangnya. Dengan demikian, wawancara tetap berjalan sebagai proses mendengarkan, bukan membantah.
Hal yang sama berlaku ketika pewawancara berbeda pendapat, misalnya terkait pandangan politik atau keyakinan tertentu. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya “benar” atau “salah” dalam wawancara sejarah lisan. Tugas pewawancara adalah memahami alasan dan motivasi di balik pendapat narasumber, bukan memperdebatkannya.
Secara umum, perdebatan justru akan membuat suasana wawancara menjadi tidak nyaman. Narasumber bisa merasa bahwa pewawancara tidak tertarik pada pendapat atau pengalamannya, tetapi hanya ingin mendebat. Karena itu, tetaplah fokus pada tujuan utama: mendengarkan dan mencatat cerita narasumber seutuhnya.
Menanyakan Sumber Informasi
Sejalan dengan pentingnya mengajukan pertanyaan lanjutan ketika pewawancara tidak memahami jawaban narasumber atau merasa tidak setuju, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menanyakan dari mana narasumber memperoleh informasinya.
Menanyakan sumber informasi tidak hanya berguna ketika terjadi perbedaan pendapat, tetapi juga membantu pewawancara memahami posisi narasumber dengan lebih baik. Dengan mengetahui dari mana informasi tersebut berasal, pewawancara bisa menelusuri konteks cerita, latar belakang narasumber, serta pengalaman yang memengaruhi cara pandang mereka.
Menanyakan Konteks
Hampir serupa dengan menanyakan sumber informasi, pewawancara juga perlu terbiasa menggali konteks di balik cerita narasumber. Untuk benar-benar memahami pengalaman dan kisah hidup narasumber, penting bagi pewawancara tidak hanya berhenti pada fakta bahwa suatu peristiwa terjadi, tetapi juga mendorong narasumber menggambarkan suasana dan detailnya. Sebagai contoh, jika narasumber bercerita bahwa ia pernah bersekolah di suatu tempat, jangan hanya berhenti pada informasi itu saja, tapi cobalah juga untuk mendapatkan deskripsi lebioh detai, misalnya bagaimana jalan menuju sekolah waktu itu? Apa yang dilihat setiap hari di sepanjang jalan? Begitu juga jika narasumber menceritakan bahwa ia terlibat dalam suatu aksi atau peristiwa, tanyakan bagaimana peristiwa itu berakhir, bagaimana reaksinya, atau apa yang terjadi sesudahnya.