Pernahkah Anda merasa gugup saat suasana tiba-tiba hening di tengah wawancara? Atau bingung harus berbuat apa ketika narasumber mulai menitikkan air mata? Bagaimana seharusnya pewawancara bersikap dalam situasi seperti ini?
Bagi banyak pewawancara, keheningan dan emosi sering dianggap momen yang canggung atau sulit dihadapi. Namun, justru dua hal inilah yang sebenarnya bisa menjadi bagian penting dari proses wawancara sejarah lisan. Bacalah teks di bawah ini untuk memahami lebih dalam.
Keheningan
Reaksi pertama banyak pewawancara ketika suasana tiba-tiba hening adalah segera mengajukan pertanyaan baru. Alasannya, pewawancara sering merasa bahwa wawancara harus terus berjalan lancar tanpa jeda, dan keheningan berarti pewawancara tidak mampu mengendalikan jalannya wawancara atau gagal mengajukan pertanyaan.
Padahal, keheningan sebenarnya adalah alat penting dalam wawancara. Sebagai pewawancara, Anda bisa menahan diri untuk tidak langsung bertanya jika merasa narasumber belum benar-benar selesai dengan jawabannya. Dalam situasi seperti ini, memberi jeda adalah hal yang wajar.
Bahkan, pewawancara juga bisa menunggu sedikit lebih lama sebelum bertanya lagi. Tujuannya adalah memberi kesempatan kepada narasumber untuk berpikir ulang, menata kata-kata, atau menambahkan hal-hal yang sebelumnya terlupa. Untuk mendukung hal ini, pewawancara dapat menggunakan bahasa tubuh atau ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa narasumber punya cukup waktu untuk menyelesaikan ceritanya.
Keheningan singkat juga membantu menciptakan ritme wawancara yang baik. Wawancara sejarah lisan memang sebaiknya berjalan lebih pelan dan mendalam dibanding wawancara radio atau televisi yang serba cepat.
Selain itu, keheningan juga membuat narasumber merasa lebih nyaman, terutama saat membahas isu-isu yang sensitif. Narasumber akan merasa bahwa mereka yang memegang kendali waktu untuk bercerita.
Emosi
Keheningan sering berkaitan dengan hal berikutnya yang juga dianggap sulit oleh sebagian pewawancara, yaitu bagaimana menghadapi emosi narasumber. Banyak pewawancara merasa takut jika narasumber tiba-tiba menangis atau menunjukkan emosi mendalam, karena khawatir narasumber akan mengalami masalah setelah wawancara.
Padahal, emosi bukanlah masalah dalam wawancara. Emosi adalah bagian normal dari komunikasi, apalagi saat narasumber menceritakan hal-hal sensitif atau mengenang orang yang telah tiada.
Sebagai pewawancara, penting untuk memahami bahwa kebanyakan narasumber sudah siap secara mental. Misalnya, orang yang menceritakan pengalaman traumatis biasanya sudah tahu bahwa ia mungkin akan terbawa emosi. Jika mereka merasa tidak sanggup, mereka biasanya tidak akan menyetujui wawancara sejak awal.
Meskipun begitu, pewawancara tetap bertanggung jawab untuk memberi perhatian khusus ketika narasumber mulai emosional. Jika emosi masih ringan, cukup berikan ruang agar narasumber bisa mengekspresikan perasaannya. Namun jika emosi semakin kuat, pewawancara sebaiknya menanyakan apakah narasumber ingin beristirahat, mengganti topik, atau bahkan menghentikan wawancara.
Pesan pentingnya adalah: jangan takut dengan emosi narasumber, dan selalu pastikan narasumber merasa aman dan nyaman kembali. Setelah wawancara, ada baiknya pewawancara menghubungi narasumber beberapa jam atau satu hari kemudian untuk menanyakan kabar mereka. Ini adalah sikap bertanggung jawab yang patut dilakukan.
Terakhir, pewawancara juga perlu peka terhadap emosinya sendiri. Pewawancara juga manusia: mendengar kisah kekerasan atau penyiksaan, misalnya, bisa sangat mengguncang emosi pewawancara. Tidak ada solusi instan untuk ini, tetapi penting untuk menyadari dan menerima perasaan tersebut, dan jika perlu, membicarakannya dengan teman atau rekan kerja. Menjadi emosional bukan berarti pewawancara tidak profesional. Hal ini justru menunjukkan empati pewawancara sebagai manusia.